ANALISIS PEMERAN IBU DALAM NASKAH IBU SEJATI KARYA PUTU WIJAYA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemeran utama pada  naskah drama Ibu Sejati karya Putu wijaya yang meliputi: wujud psikologis pada tokoh utama. Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi beberapa teori dalam psikologi, khususnya teori psikoanalisis, dalam penerapannya pada pendekatan psikologi sehingga dapat disinergikan untuk mempertajam analisis penokohan dan proses kekaryaan teater. Metode yang digunakan adalah kepustakaan dan analisis dokumen dari sumber seperti buku, jurnal, tulisan tentang psikoanalisis dan teater, dilengkapi dengan dokumentasi pertunjukan dan naskah drama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ilmu psikologi, khususnya teori-teori kepribadian seperti psikoanalisis, dapat digunakan sebagai ilmu bantu untuk menganalisis beberapa persoalan dalan seni yang berhubungan dengan manusia sebagai objeknya secara langsung, seperti analisis penokohan dan proses kreatif penciptaan karya seni drama dan teater. Sinergi antara keduanya dapat saling melengkapi, baik bagi dramaturgi, maupun ilmu psikologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui pendekatan psikologi sastra. Pengadaan data dilakukan melalui pembaaan berulang-ulang dan pencatatan data dengan memilah data sesuai dengan aspek yang diteliti.

Kata-kata kunci : psikologi, psikoanalisis, penokohan.


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Karya sastra mempunyai berbagai macam jenis di antaranya, puisi, drama serta novel. Salah satu jenis karya sastra adalah drama. Drama mempunyai beberapa unsur di dalamnya, salah satunya adalah naskah drama. Naskah drama merupakan sebuah dialog antara dua orang atau lebih dan dialog tersebut menjadi gambaran jalan cerita dari sebuah drama. Seperti yang dikemukakan Larousse (1997: 122) bahwa kata dialogue merupakan sebuah percakapan antara dua orang atau lebih. Percakapan dalam drama merupakan hal penting yang dipergunakan untuk pengungkapan jalan cerita drama tersebut.

Di dalam sejarahnya, kata "Teater" ini berasal dari bahasa Inggris theater atau juga theatre, bahasa Perancis thtre serta dari bahasa Yunani theatron. Secara etimologis, kata "teater" ini bisa atau dapat diartikan yakni sebagai tempat atau juga gedung pertunjukan. Sedangkan dari secara istilah kata teater ini diartikan yakni sebagai segala hal yang dipertunjukkan di atas pentas untuk kemudian akan konsumsi penikmat. Selain dari itu, istilah teater ini bisa atau dapat diartikan yakni dengan 2 cara yakni dalam arti sempit serta juga di dalam arti luas. Teater apabila di dalam arti sempit ini dideskripsikan ialah sebagai sebuah drama (yakni perjalanan hidup seseorang yang dipertunjukkan di atas pentas, disaksikan oleh banyak orang serta juga dengan berdasarkan atas naskah yang tertulis). Sedangkan di dalam arti luas, teater ini merupakan segala adegan peran yang diperlihatkan di depan orang banyak, seperti ialah ludruk, wayang, ketoprak, sintren,mamanda, akrobat, dagelan, janger, sulap, dan lain sebagainya. Di dalam perkembangannya, istilah teater ini selalu dikaitkan yakni dengan kata drama. Hubungan dari kata "teater" serta "drama" bersandingan itu sedemikian erat yang pada prinsipnya keduanya ini ialah istilah yang berbeda. Drama ini merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Yunani Kuno yakni "draomai" yang memiliki arti bertindak atau berbuat serta apabila di dalam bahasa Perancis "drame" ini menjelaskan mengenai tingkah laku kehidupan kelas menengah. Dari penjelasan tersebut, dapat atau bisa disimpulkan bahwa istilah "teater" ini berhubungan langsung itu dengan pertunjukan, sedangkan untuk "drama" ini hubungannya dengan peran atau juga naskah cerita yang akan dipentaskan. Apabila, teater ini merupakan suatu visualisasi dari suatu drama atau pun juga drama yang dipentaskan di atas panggung serta juga disaksikan oleh penonton. Dengan kata lain drama ini ialah bagian atau juga salah satu unsur dari teater.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan. Konflik yang muncul terjadi karena masing-masing tokoh mempunyai motivasi individu dan pemikiran berbeda dalam menjalani kehidupannya. Perbedaan itulah yang kemudian memunculkan konflik secara psikologis dan sosial. Timbulnya konflik disebabkan karena ada motivasi individu yang bertentangan dengan hal-hal tertentu dalam realita sosial. Jika individu tersebut tetap memilih untuk mendahulukan motivasi pribadinya, maka akan muncul konflik sosial. Ketika kepentingan individu yang berangkat dari motivasi pribadinya tersebut memunculkan permasalahan pada dirinya sendiri dan orang lain, maka muncullah konflik batin pada individu tersebut. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa objek utama dalam drama adalah manusia dan konflik batinnya. Drama menjadi salah satu bentuk karya sastra, ketika konflik tokohtokohnya dikisahkan dalam jalinan alur cerita yang disusun pengarang. Mengenai hubungan antara pengarang dan konflik batin yang dialami tokoh dalam cerita.

Darma (1983:52) berpendapat bahwa, karena sastra adalah pengungkapan masalah hidup, filsafat dan ilmu jiwa, maka pengarang adalah ahli ilmu jiwa dan filsafat yang mengungkapkan masalah hidup melalui sastra. Dalam hubungan ini, dapat dilihat bahwa terdapat kaitan yang erat antara sastra dan ilmu psikologi. Kaitan ini diperkuat oleh pernyataan Jatman (dalam Endraswara 2003:97) bahwa karya 2 sastra dan psikologi memiliki pertautan yang erat, yaitu secara tidak langsung dan secara fungsional. Pertautan tidak langsung, karena baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia. Psikologi dan sastra mempunyai hubungan fungsional karena sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaan manusia. Bedanya, dalam psikologi gejala tersebut riil, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif. Pemahaman ilmu psikologi menjadi bekal yang penting dalam mempelajari drama terutama untuk kebutuhan analisis penokohan (karakterisasi). Sedangkan bagi pengarang, pemahaman ini sangat diperlukan, sebab mutu sebuah drama terletak pada kepandaian pengarang menghidupkan watak tokoh-tokohnya.

Penggambaran karakter tokoh juga dapat diketahui dari apa yang dikatakan penutur, jati diri penutur, nada suara, penekanan, dialek, kosa kata dan kualitas mental para tokoh yang tercermin dari dialognya. Sedangkan karakterisasi melalui tingkah laku para tokoh mencakup ; ekspresi wajah dan motivasi yang melandasi tindakan para tokoh (Minderop, 2005: 38). Pada bagian inilah ilmu psikologi dapat digunakan untuk mempertajam analisis ketika pembaca, aktor, sutradara, atau siapapun yang akan menelaah penokohan dalam drama. Seperti yang diungkapkan Saptaria (2006:8), bahwa ilmu psikologi adalah salah satu hal penting yang harus dipahami oleh aktor ketika ia ingin mendalami peran yang akan dimainkan.

Motif muncul dari berbagai sumber, seperti a) kecenderungan dasar yang dimiliki manusia, misalnya kecenderungan untuk mendapatkan pengalaman tertentu atau pemuasan libido tertentu; b) situasi yang melingkupi manusia, yaitu keadaan fisik dan keadaan sosial; c) rangsangan yang timbul karena interaksi sosial; dan d) watak manusia, sifat intelektualnya, emosinya, persepsi dan resepsi, ekspresi serta sosial-kulturalnya (Oemarjati, 1971: 63 dan Hasanuddin, 1996: 88). Untuk memahami pengungkapan motif tokoh yang kemudian memunculkan konflik dapat dilakukan dengan menganalisis secara mendalam keinginan dan hasrat individu yang berhubungan dengan motivasi yang ada dalam dirinya. Dalam ilmu psikologi, hal ini dibahas secara khusus dalam teori psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud dan beberapa pakar yang menyempurnakan teorinya dikemudian hari.

I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom Tabanan, Tabanan, Bali, 11 April 1944; umur 77 tahun) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah seorang pelukis, penulis drama, cerpen, esai, novel, skenario film, dan sinetron. Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Di antaranya yaitu mementaskan naskah Gerr (Geez), dan Aum (Roar) di Madison, Connecticut dan di LaMaMa, New York City, dan pada tahun 1991 membawa Teater Mandiri dengan pertunjukkan Yel keliling Amerika. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.

·         Salah satunya adalah karya yang berjudul Ibu Sejati karya putu wijaya ini, dimana karya ini terdapat konflik dan diambang kebingungan atas kesalahan anak kandungnya. Niat hati ingin mempermudah hukuman anaknya yang telah membuat dosa yang sangat keji, alih-alih ia dipermalukan, dianggap tidak memiliki hati, dan tega terhadap anak kandungnya sendiri.

Berdasarkan hal tersebut maka psikologi sastra dapat digunakan untuk mengkaji sebuah karya sastra, dalam hal ini adalah karya sastra yang berupa naskah drama. Di dalam penelitian naskah drama Ibu Sejati karya Putu Wijaya ini menggunakan psikologi sastra sebagai alat untuk menganalisis. Dengan mengkajinya menggunakan psikologi sastra dapat diketahui latar belakang psikologis sebagai penyebab tindakannya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah, maka diperoleh rumusan masalahnya, yakni:

  • Bagaimana analisis psikologi sastra tokoh utama yang ada dalam naskah drama Ibu Sejati karya Putu Wijaya?

C. Tujuan Penelitian

Mendeskripsikan tokoh Ibu dalam naskah drama Ibu Sejati karya Putu Wijaya menggunakan pendekatan Psikologi.


KAJIAN TEORI

A. Drama sebagai karya sastra

Secara umum, karya sastra terdiri dari tiga jenis, yaitu prosa, puisi dan drama. Drama merupakan salah satu karya sastra yang berupa tindakan melakukan percakapan di antara pemeran drama sesuai dengan naskah drama. Schimit dan Viala (1982: 96) mengungkapkan bahwa drama adalah karya sastra yang merujuk pada tindakan perbuatan pemain yang melakukan adegan serta percakapan yang sesuai dengan naskah drama. Naskah drama merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah pertunjukan drama. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Schmitt dan Viala (1984: 110) «les multiples signes du spectacle sont présents dans ou à travers le texte». Segala aspek yang berkaitan dengan sebuah pertunjukan diatur didalam atau melalui sebuah teks. Naskah drama terdiri dari beberapa dialog antar tokoh. Menurut Larousse (1997: 122) dialogue adalah keserempakan kata-kata saling antara pemeran dalam film, dalam drama, dan cerita. Di dalam naskah drama, dialog-dialog merupakan bagian terpenting dan sampai taraf tertentu ini juga berlaku bagi monologmonolog. Dialog yang diucapkan oleh pemeran, dan ada bagian narator namun sebagian besar tidak diucapkan secara langsung pada saat pertunjukan. Seperti yang dikemukakan Schimit dan Viala (1982: 96) bahwa didalam drama kata-kata pada bagian narasi tidak dibacakan, namun langsung ditunjukkan pada penonton.

B. Penokohan

Penokohan Di dalam sebuah drama, tokoh merupakan hal yang sangat penting mengingat naskah drama merupakan percakapan antartokoh agar terciptanya suatu cerita yang utuh. Penokohan dalam karya sastra Perancis biasa disebut dengan personage. Tokoh dalam naskah drama itu disebut tokoh yang biasanya beruwujud manusia, namun tidak menutup kemungkinan bahwa sebuah entitas juga dapat digambarkan melalui tokoh manusia (Schmitt dan Viala (1982: 69)). Menurut Anne Ubersfled (1997: 94) penokohan dalam naskah drama tidak sulit untuk diketahui karena sudah jelas siapa saja tokoh-tokohnya yang terbagi dalam dialog-dialog. Dalam naskah drama penokohannya juga sudah jelas penamaanya yang telah disesuaikan dan jika tidak bernama, penamaannya akan sesuai dengan peran. Tokoh yang ada dalam naskah drama juga dapat menggambarkan perwatakan yang ada didalam diri tokoh tersebut, karena di dalam diri tokoh telah menyangkut aspek fisik, moral, sosial yang menggambarkan perwatakan tokoh tersebut. Dalam sebuah penokohan, tokoh dalam drama terdiri dari tiga aspek, yakni aspek fisik, aspek moral, dan aspek sosial. Seperti yang diungkapkan oleh Schmitt dan Viala (1982: 70) Penokohan itu adalah kumpulan dari tiga aspek, yakni aspek fisik, moral, dan sosial. Dalam setiap tokoh yang ada di dalam naskah drama mempunyai aspek tersebut bertujuan untuk dapat memperkuat penokohan yang 15 ada dalam naskah drama. Dari uraian tersebut dapat didapatkan bahwa penokohan dalam naskah drama dapat diketahui dengan mudah, karena telah ada dialog-dialog dan itu telah jelas siapa saja yang terlibat didalamnya. Didalam tokoh juga mempunyai unsur yang memperkuat tokoh, yakni unsur fisik, moral dan sosial yang dapat lebih menggambarkan penokohan sehingga tercerminlah bagaimana perwatakannya.

C. Psikologi Sastra

Psikologi Sastra Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos, yaitu science atau ilmu yang mengarahkan perhatiannya pada manusia sebagai objek studi, terutama pada sisi perilaku (behavior atau action) dan jiwa (psyche). Perilaku yang tercermin melalui ucapan dan perbuatan merupakan data atau fakta empiris yang menjadi agen penunjuk keadaan jiwa atau mental seseorang. Di dalam karya sastra yang merupakan jagad realita yang didalamnya terjadi peristiwa dan perilaku yang dialami dan diperbuat manusia dalam hal ini yang dimaksud adalah tokoh. Tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat, karena psikologi mempelajari perilaku. Hal itulah yang menjadi titik temu atau kesamaan. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas didapatkan bahwa psikologi sastra adalah mengkaji karya sastra yang didukung oleh konsep-konsep dan teoriteori yang ada dalam ilmu psikologi, karena keduanya mempunyai titik temu mempelajari manusia, meskipun dalam karya sastra berupa tokoh. Berikut merupakan beberapa konsep-konsep dan teori dalam ilmu psikologi :

1. Halusinasi

Halusiasi adalah pengalaman sensorik yang disebabkan oleh stimuli eksternal aktual. Halusinasi dapat terjadi pada indra mana pun, termasuk halusinasi yang bersifat auditorik. Banyak yang mengalami halusinasi mendengar suara yang mengomentari perilaku mereka atau memberikan perintah (Oltmanns dan Emery,2013: 127).

2. Delusional

 Delusi adalah kepercayaan aneh yang diyakini secara kaku meskipun tidak masuk akal (Maher, 2001). Delusi kadang-kadang didefinisikan sebagai keyakinan yang keliru yang didasarkan pada inferensi yang salah tentang kenyataan. Definisi ini memiliki sejumlah masalah, termasuk kesulitan membangun kepercayaan mendasar tentang banyak situasi. Beberapa karakteristik lain penting dalam mengidentifikasi delusi dalam kasus yang paling berat, pasien delusional mengekspresikan dan membela kepercayaannya dengan keyakinan penuh, bahkan ketika disodori dengan bukti-bukti yang kontradiktif.

3. Perilaku Kriminal

Perilaku kriminal adalah perilaku seseorang yang melanggar hukum negara. Istilah kriminal atau kejahatan sendiri sebenarnya merupakan istilah hukum. Maka apa yang dipandang sebagai kejahatan sesungguhnya sangat bergantung pada hukum atau masyarakat. Sekalipun begitu, tindak kejahatan atau perilaku kriminal merupakan bentuk perilaku yang melawan kepentingan individu lain maupun masyarakat secara keseluruhan. Dilihat dari akibat-akibat yang ditimbulkannya, perilaku kriminal dapat dibedakan kedalam yang berat dan yang ringan. Jenis-jenis kejahatan yang utama adalah pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan pencurian dengan pemberatan. (Supratiknya,2012: 59).

4. Kecemasan

Kecemasan (anexiety) lebih berorientasi masa depan dan bersifat umum, mengacu pada kondisi ketika individu merasakan kekhawatiran atau kegelisahan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman. Bila sesuatu terasa mengancam dan anda percaya bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan untuk itu, anda mungkin merasa cemas. (Durand, V.Mark dan Barlow.David H.2006: 344). Reaksi individu terhadap ancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dihadapinya menjadi cemas atau takut. Freud mengemukakan bahwa kecemasan itu dibagi menjadi tiga macam, yakni kecemasan realistis, neurotis, dan kecemasan moral. Kecemasan realistis adalah takut akan berbagai bahaya di dunia luar. Kecemasan ini merupakan dasar dari adanya kecemasan-kecemasan yang lain.

Kecemasan moral menjadi macam kecemasan yang ketiga. Kecemasan ini merupakan kecemasan kata hati. Kecemasan ini akan timbul ketika seseorang melanggar norma-norma yang ada. Kecemasan moral ini juga mempunyai dasar dalam realitas, karena di masa yang lampau orang telah mendapatkan hukuman sebagai akibat dari perbuatan yang melanggar kode moral, dan mungkin akan dapat hukuman lagi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dari naskah ini terdapat penelitian yang menggunakan Pendekatan psikologi Sigmund Freud, psikologi tertentu serta saling berhubungan menyangkut tentang pengajaran diri dan hakikat belajar dalam diri seseorang. Dalam setiap paham psikologi, tentunya memiliki keyakinan-keyakinan tertentu akan belajar. Ada banyak pandangan yang berbeda mengenai belajar, termasuk dalam belajar bahasa.

Dasar Teori Psikoanalisis Sigmund Freud

1.  Id (Das Es)

Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologi yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah tak sadar, mewakili subjektivitas yang tidak pernah sisadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya.

Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-benar salah, tidak tahu moral. Alasan inilah yang kemudian membuat id memunculkan ego.

2.  Ego (Das Ich)

Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle) usaha memperoleh kepuasan yang dituntut id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan.

Ego adalah eksekutif atau pelaksana dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama ; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari id.

3.  Superego (Das Ueber Ich)

Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik (edialistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realistik dari ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego, ia tak punya sumber energinya sendiri. Akan tetapi, superego berbeda dari ego dalam satu hal penting – superego tak punya kontak dengan dunia luar sehingga tuntutan superego akan kesempurnaan pun menjadi tidak realistis.

Dari penjelasan diatas dapat kita rangkum apa yang terdapat dalam naskah drama yang berjudul Ibu Sejati karya Putu Wijaya pada tokoh utama yaitu ibu.

  • Id

“Tapi begitu tatapan kembali dengan Ujang aku langsung tumbang sementara Putraku malang itu besar jiwanya.” Terlihat pada naskah ini bahwa id seorang ibu kepada anaknya sungguh tulus.

“Hampir subuh aku tersentak membuka mata ronda Kampung mengetuk tiang listrik 4 kali ya Allah aku terlambat” idi yang terlihat disini bahwa seorang ibu tidak ingin meningalkansebuah momen, dimana ia akan kehilangan anaknya.

  • Ego

“Aku berharap yang berwajib akan bijaksana, oleh laporanku yang terus terang mengakui kesalahan Ujang. Dengan harapan supaya itu bisa meringankan hukumannya.” Terlihat disini bahwa ego seorang ibu yang melaporkan anak kandungnya, alih-alih melaporkan anak kandungnya sendiri berharap bahwa hukuman anaknya akan diringankan.

“Aku, sebagai ibu, semaput. Dikunyah sesal, dihantui dosa, aku mengutuk diriku. Coba, di mana ada ibu membunuh anak sendiri? Bukan Ujang putraku yang binatang buas, tapi aku sendiri lah iblis yang ganas.” Ego yang terlihat bahwa ibu ini diselimuti dosa setelah melaporkan anaknya sendiri ke jeruji besi, dihantui rasa bersalah yang tidak henti-hentinya.

“Sebagai ibu yang baik, aku datang ke kantor polisi atas kemauan sendiri. Melaporkan putraku Ujang yang telah khilaf, sesat, bejat, buas.” Ego disini memperlihatkan bagaimanaseorang ibu yang menanggung malu yang akhirnya tak kuasa akan perlakuan anaknya yang yang membunuh lima orang sekaligus dalam waktu yang bersamaan. 

  • SuperEgo

“Aku panik kalau Putra  tunggalku mati, apa arti hidup ini otakku gelap memukul-mukul.” Superego yang terlihat bahwa bagaimanapun kesalahan seorang anak, ibu akan selalu kepikiran, dan membayangkan betapa suramnya seorang ibu tinggal tanpa kehadiran anak semata wayangnya.

“Lalu kuraih stagen dan menggantung diri di kamar mandi tak perlu saksi tidak takut terlambat macet aku dengan mudah melayang ringan ke angkasa Jakarta kuseberangi sekejap mata di Lapangan Tembak kusaksikan senjata yang terhunus menunggu aba-aba untuk membantai.” SuperEgo yang terdapat disini bahwa ibu tak sanggup akan menerima hal semacam ini, maka iya putuskan agar ikut menemani anaknya dengan cara menggantungkan diri. Dengan cara ini ia pikir akan bisa langsung bertemu dengan anak semata wayangnya. Hal-hal seperti ini kadang diluar nalar pikiran.

Kesimpulan

Realita yang dihadirkan dalam naskah drama “Ibu Sejati” adalah penggambaran dari realita sosial dan realita psikologis yang dialami haya sebagaian orang, pada saat naskah ini ditulis. Penulisnya menuangkan pikirannya dalam drama yang menawarkan solusi bagi konflik yang dialamiseorang ibu. Drama ini relevan dengan kondisi saat dimana seorang ibu tidak bisa merelakan anaknya. Psikologis yang terdapat pada naska ini juga dimunculkan, serta menawarkan pemecahan (resolusi) yang relevan dengan masing-masing permasalahan. Penulis menghadirkan penggambaran yang nyata dan apa adanya untuk memberikan informasi bahwa konflik yang terjadi cukup kompleks. Putu Wijaya memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya dengan pilihan dan sudut pandang pemikiran masing-masing. Konflik yang dihadirkan akan diatasi dengan sebuah keputusan akhir untuk menghadapi setiap persoalan. Dapat disimpulkan bahwa penulis menawarkan solusi dan pesan tentang pentingnya kehadiran cinta  dan kasih saying dari seorang ibu terhadap anaknya.


DAFTAR PUSTAKA

Akhyar Makaf, M. (2016, 16 Mei). iPSIKOLOGI TEATERTINJAUAN TEORI PSIKOANALISIS DALAM

ANALISISPENOKOHAN DAN PROSES PENCIPTAAN TEATER. Retrieved from

http://repository.isi-

ska.ac.id/3289/1/Mukhlas%20Alkaf%2C%20S.Ant.%2C%20M.Hum._Penelitian.pdf

Bagus, A. (2018). Kajian Psikologi Sastra pada Naskah Drama Senja dengan Dua Kelelawar Karya

Kridjomulyo dan Relevansinya sebagai Bahan Ajar Apresiasi Drama pada Sekolah Menengah

Atas. Retrieved from https://eprints.uns.ac.id/42680/

Fifi, Y. I. (n.d.). TINJAUAN PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA NASKAH DRAMA SENJA DI TAMAN KARYA

IWAN SIMATUPANG. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/75281-ID-

none.pdf

Nurulngaeny, Z. (2016). ANALISISPSIKOLOGIS TOKOH UTAMA DALAMNASKAH DRAMA ROBERTO

ZUCCO KARYA BENARD-MARIE KOLTÈS. Retrieved from

https://core.ac.uk/download/pdf/78029494.pdf

Komentar